Ringkasan Utama
- Program Sustainable Living Village (SLV) menghubungkan penguatan mata pencaharian, perlindungan ekosistem, kesiapan petani swadaya, dan kolaborasi berbagai pihak untuk menciptakan dampak nyata di tingkat desa.
- Sepanjang 2025, 951 petani swadaya mengikuti pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) dan Best Management Practices (BMP), sementara 693 petani berhasil memperoleh dokumen Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB).
- Budidaya madu trigona memberikan sumber penghasilan tambahan yang dapat dikelola di sekitar rumah, tanpa perlu membuka lahan baru.
Bagi masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian pada lahan dan sumber daya alam, ketahanan ekonomi dan pengelolaan lingkungan merupakan dua hal yang saling berkaitan erat. Di Aceh Singkil, keterkaitan ini menjadi semakin penting karena desa, kebun petani, kawasan hutan, serta wilayah yang menjadi bagian dari bentang alam Leuser—termasuk area di sekitar Suaka Margasatwa Rawa Singkil—berada dalam satu lanskap yang saling terhubung.
Untuk mendukung upaya tersebut, Apical memulai program Sustainable Living Village (SLV) di Aceh Singkil pada 2023. Program yang mencakup enam desa ini membantu petani dan keluarga peserta mengembangkan sumber pendapatan tambahan, meningkatkan praktik pertanian, memperkuat registrasi dan dokumentasi kebun, serta membantu mengurangi tekanan terhadap kawasan hutan di sekitarnya.
Program ini dijalankan melalui kolaborasi dengan Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH), Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Forum Konservasi Leuser (FKL), serta mitra pemerintah di tingkat provinsi dan kabupaten.
Peran Sustainable Living Village di Aceh Singkil
Banyak keluarga di Aceh Singkil mengandalkan beragam sumber penghasilan, mulai dari perkebunan kelapa sawit, perikanan, pemanfaatan rumbia (sagu), hasil hutan, hingga pengumpulan madu secara musiman. Ketika pendapatan sangat bergantung pada cuaca, musim, dan ketersediaan sumber daya alam, mereka menjadi lebih sulit merencanakan kebutuhan dan penghidupan mereka dalam jangka panjang. Membuka lahan baru mungkin terlihat sebagai salah satu jalan keluar, tetapi langkah ini juga dapat menambah tekanan terhadap hutan dan ekosistem di sekitarnya.
Pendekatan desa berkelanjutan membantu menjawab berbagai tantangan tersebut secara bersamaan. Sumber penghasilan baru dapat membantu keluarga memiliki penghidupan yang lebih stabil, sementara pelatihan dan pendampingan dapat membantu petani meningkatkan hasil dari lahan yang sudah mereka kelola.
Dukungan juga dapat diberikan agar petani mampu menyiapkan dokumen yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan yang semakin tinggi terhadap sumber bahan baku yang bertanggung jawab dan dapat ditelusuri. Dengan demikian, peningkatan kesejahteraan keluarga, produktivitas kebun, dan perlindungan lingkungan dapat berjalan beriringan.
Cara Kerja Program Sustainable Living Village
Menambah Sumber Pendapatan melalui Madu Trigona
Budidaya madu trigona diperkenalkan sebagai sumber penghasilan tambahan, bukan untuk menggantikan mata pencaharian yang sudah ada. Lebah trigona yang tidak menyengat dapat dibudidayakan di sekitar rumah, sehingga keluarga tetap dapat merawat koloni sambil menjalankan kegiatan bertani dan aktivitas sehari-hari lainnya. Mereka juga mendapatkan pendampingan mengenai perawatan koloni, teknik panen, menjaga kualitas produk, hingga pemasaran.
Selain membuka peluang pendapatan baru, budidaya trigona juga membantu mengurangi kebutuhan masyarakat untuk masuk ke hutan guna mencari madu liar atau membuka lahan baru sebagai sumber penghasilan. Lebah trigona turut membantu proses penyerbukan tanaman di lingkungan sekitar, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi juga mendukung kesehatan ekosistem setempat.
Salah satu kelompok pembudidaya madu yang mengikuti program ini melaporkan bahwa anggotanya memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp350.000 hingga Rp500.000 per bulan, tergantung pada hasil produksi. Penghasilan tambahan tersebut membantu keluarga memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari biaya sekolah dan kebutuhan rumah tangga hingga perbaikan rumah.
Meningkatkan Praktik Pertanian dan Legalitas Usaha Tani
SLV juga mendukung petani swadaya melalui pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) dan Best Management Practices (BMP). Pelatihan ini mencakup berbagai aspek praktis, mulai dari pemanenan, pemeliharaan kebun, dan pengelolaan lahan hingga pencatatan kegiatan usaha tani. Pencatatan yang lebih tertib membantu petani memahami pengelolaan kebunnya dengan lebih baik, sekaligus memudahkan penelusuran hasil produksi di sepanjang rantai pasok.
Selain peningkatan kapasitas, program ini juga mendampingi petani dalam pengurusan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), dokumen resmi pendaftaran kegiatan budidaya bagi pekebun di Indonesia. Proses pengurusannya mengharuskan petani menyiapkan berbagai informasi mengenai identitas, lahan, dan kegiatan budidaya mereka, yang tidak selalu mudah dilakukan tanpa pendampingan.
Setelah diterbitkan, STDB menjadi bukti administratif resmi bahwa kebun telah terdaftar. Dokumen ini juga dapat memperkuat kesiapan petani untuk mengikuti program pemerintah, memenuhi kebutuhan ketertelusuran, serta menuju sertifikasi keberlanjutan di masa mendatang.
Sinergi Masyarakat, Lingkungan, dan Kemitraan
SLV menghubungkan aksi di tingkat lapangan dengan dukungan yang lebih luas di tingkat lanskap. Setiap mitra memiliki peran yang saling melengkapi: Apical dan IDH memberikan arahan bagi pelaksanaan program; YEL bekerja langsung bersama masyarakat; FKL menghadirkan keahlian di bidang konservasi; sementara pemerintah daerah membantu mengoordinasikan berbagai kegiatan agar selaras dengan kebutuhan setempat. Kolaborasi ini membantu memastikan program berjalan secara efektif, sesuai dengan kebutuhan di lapangan, dan dapat terus memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Pendekatan bersama seperti ini penting karena penghidupan yang lebih baik, pengelolaan lahan yang lebih bertanggung jawab, serta rantai pasok yang lebih berkelanjutan tidak dapat dibangun oleh satu organisasi saja. Kemajuan hanya dapat terwujud melalui kepercayaan, keterlibatan aktif masyarakat setempat, serta dukungan yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi keluarga dan petani sehari-hari.
Perkembangan Program SLV di Aceh Singkil Sepanjang 2025
Apical mencatat kemajuan yang terukur melalui program Aceh Singkil sepanjang 2025:
- 951 petani swadaya mengikuti pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) dan Best Management Practices (BMP).
- 693 petani swadaya berhasil memperoleh Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB).
- 61 petani mendapatkan dukungan untuk pengembangan budidaya lebah madu.
- Dua koperasi berhasil dibentuk.
Capaian ini menunjukkan kemajuan di berbagai aspek program, mulai dari peningkatan kapasitas petani dan legalitas kebun hingga penguatan kelembagaan masyarakat serta pengembangan sumber pendapatan tambahan. Dalam Laporan Keberlanjutan 2025, Apical menempatkan SLV sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk melindungi lanskap sekaligus mendukung petani dan masyarakat di Aceh Singkil dan Kutai Timur.
Memperluas Dampak Sustainable Living Village
Agar manfaat program SLV terus berlanjut, kemajuan yang telah dicapai perlu dijaga dan dikembangkan oleh masyarakat. Kelompok tani dapat terus menjalankan budidaya madu, sementara petani swadaya menerapkan praktik GAP dan BMP yang telah dipelajari. Koperasi dan mitra lokal juga berperan dalam mendukung pencatatan, memperluas akses pasar, dan menjalankan kegiatan lanjutan.
Pengalaman di Aceh Singkil menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan dapat dimulai dari langkah-langkah praktis, seperti menambah pendapatan, memperbaiki praktik pertanian, melengkapi dokumen kebun, dan mengelola lahan dengan lebih baik. Jika dilakukan secara konsisten, langkah-langkah ini dapat memperkuat masyarakat sekaligus mendorong rantai pasok yang lebih bertanggung jawab dan transparan.
Frequently Asked Questions
Apa itu Program Sustainable Living Village Apical?
Program Sustainable Living Village (SLV) Apical merupakan program berbasis masyarakat yang membantu meningkatkan penghidupan warga sekaligus mendorong praktik pertanian yang lebih baik dan menjaga kelestarian hutan. Pelaksanaannya mencakup pelatihan bagi petani, pendampingan untuk melengkapi dokumen kebun, pengembangan sumber penghasilan tambahan, kegiatan konservasi, serta kolaborasi dengan berbagai pihak di tingkat lokal.
Mengapa program Sustainable Living Village Apical dijalankan di Aceh Singkil?
Program Sustainable Living Village (SLV) Apical dijalankan di Aceh Singkil untuk membantu masyarakat memperkuat mata pencaharian sekaligus mengelola lingkungan secara lebih bertanggung jawab. Hal ini penting karena banyak keluarga di sana bergantung pada sumber daya alam, sementara sejumlah desa dan kebun petani berada dekat kawasan hutan dan konservasi.
Bagaimana program SLV Apical memanfaatkan madu trigona untuk mendukung mata pencaharian masyarakat?
Program SLV Apical mendukung budidaya madu trigona sebagai sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat di Aceh Singkil. Lebah tanpa sengat ini dapat dipelihara di sekitar rumah tanpa membuka lahan baru, sekaligus membantu penyerbukan tanaman dan menjaga keanekaragaman hayati.
Apa itu GAP dan BMP dalam program SLV Apical?
Good Agricultural Practices (GAP) dan Best Management Practices (BMP) merupakan praktik pertanian yang diterapkan dalam program Sustainable Living Village (SLV) Apical. Melalui pelatihan ini, petani swadaya mempelajari cara memanen, merawat kebun, mengelola lahan, menggunakan pupuk, mengendalikan hama, serta mencatat kegiatan dan hasil produksi dengan lebih baik. Praktik tersebut membantu petani mengelola kebun yang sudah ada secara lebih efektif sekaligus memiliki catatan produksi yang lebih tertata.
Mengapa STDB penting dalam program SLV Apical?
Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) merupakan dokumen resmi pemerintah yang mencatat kegiatan perkebunan milik pekebun swadaya. Melalui program SLV, Apical membantu petani menyiapkan berbagai informasi yang dibutuhkan dalam proses pengajuan, mulai dari data diri hingga keterangan mengenai lahan dan kegiatan budidaya. Setelah diterbitkan, STDB mencatat kebun secara resmi sekaligus memperjelas asal-usul hasil perkebunan dalam rantai pasok.


